Apa yang membuat warga rela berdesakan demi mendapatkan sayuran dan nasi dari sebuah gunungan? Jawabannya ada dalam kirab budaya haul Nyai Ageng Ngerang di Desa Tambakromo, Pati. Tradisi tahunan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi simbol berkah dan penghormatan kepada leluhur.
Kirab haul Nyai Ageng Ngerang dimulai dari kantor Desa Tambakromo menuju kompleks makam, menempuh perjalanan sejauh dua kilometer. Dalam prosesi ini, para sesepuh dan tokoh masyarakat membawa luwur sebagai bagian dari rangkaian tradisi. Warga dari berbagai kalangan ikut mengiringi kirab sambil menunggu momen perebutan gunungan.
Belasan gunungan berisi hasil bumi turut diarak dalam kirab. Sesampainya di makam, gunungan langsung menjadi rebutan warga yang percaya pada nilai berkah dari isinya. Sayuran, nasi, dan hasil panen lain dibawa pulang dengan penuh keyakinan.
“Tadi dapat sayuran, dapat nasi, percaya bisa membawa berkah,” kata Sumiyati, salah satu warga yang ikut berebut gunungan.
Imam Gozali, Ketua Pengurus Makam Nyai Ageng Ngerang, mengatakan bahwa prosesi ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang selalu ditunggu masyarakat. Ia menyebut kirab dilaksanakan sehari sebelum acara utama pergantian luwur makam.
“Dilaksanakan untuk H-1 sebelum buka luwur. Pada hari ini dilaksanakan termasuk kirab luwur dan sebagainya,” jelasnya.
Menurutnya, kirab ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat Desa Tambakromo. Selain membawa luwur, masyarakat juga mengarak gunungan sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi. Prosesi ini menegaskan hubungan erat antara budaya, alam, dan spiritualitas warga.
“Untuk luwur besok pagi mulai dipasang. Besok pagi acara mulai dari pembukaan luwur dan mengganti luwur. Pagi ada khatmil Quran, ada tahlil, semua dilaksanakan yang berkaitan untuk kirim doa kepada Nyai Ageng Ngerang,” jelas Imam.
Selamat Rosidin, juru kunci makam, menjelaskan sosok Nyai Ageng Ngerang sebagai tokoh penting dalam sejarah lokal. Ia diyakini sebagai keturunan Raja Majapahit yang kelima dan penyebar agama Islam di wilayah Tambakromo, Pati.
“Ini ada yang menitik beratnya Nyai Ageng Ngerang adalah dari Punden Kejawan atau nama lainnya Lembu Peteng. Beliau adalah putra dari Raja Majapahit yang kelima, Prabu Brawijaya Kertanegara,” jelasnya.
Tradisi haul Nyai Ageng Ngerang bukan hanya soal ritual tahunan, tetapi juga media memperkuat identitas budaya lokal. Melalui kirab, masyarakat diajak mengenang tokoh penyebar Islam sembari melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Di tengah zaman modern, prosesi ini tetap hidup sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan warga.
Sumber berita : https://www.detik.com/jateng/budaya/d-7984052/meriah-rebutan-gunungan-di-kirab-haul-nyai-ageng-ngerang-pati

0 Komentar