Jenang sengkolo. (Foto: unimmafm.com)
Penulis : Anne Aninditha Prissanty/Editor : Windy Octaviani

Jenang sengkolo menjadi simbol penting dalam tradisi masyarakat Jawa saat menyambut malam 1 Suro. Sajian bubur merah putih ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menyimpan sejarah dan nilai-nilai hidup yang diwariskan lintas generasi. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara ajaran Islam dan kearifan lokal dalam menyambut tahun baru Jawa.

Setiap malam 1 Suro, masyarakat Jawa menyajikan jenang sengkolo sebagai bentuk syukur dan penolak bala. Bubur ini terdiri dari dua warna merah dan putih yang sarat makna filosofis. Perpaduannya dianggap merepresentasikan keseimbangan hidup, lahir dan batin, serta unsur maskulin dan feminin.

Sejarah jenang sengkolo berkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar. Ketika kapal beliau mencapai daratan, sisa bekal dicampur menjadi bubur dan dibagikan sebagai tanda rasa syukur. Dari sinilah tradisi bubur suro lahir sebagai simbol keselamatan dan rahmat.

Jenang sengkolo juga berakar dari peristiwa hari Asyura yang diperingati umat Islam. Masyarakat Jawa menyerap nilai-nilai ini ke dalam sajian jenang abang putih yang disajikan berdampingan. Sajian ini menjadi pengingat perjuangan Nabi Musa AS dan Sayyidina Husain RA dalam menghadapi tirani.

Filosofi warna dalam jenang ini menggambarkan dualitas yang melekat pada kehidupan. Warna merah mewakili unsur ibu, darah, dan bumi, sedangkan putih melambangkan unsur bapak, mani, dan langit. Keduanya menyatu sebagai lambang kesatuan penciptaan dan keseimbangan semesta.

Selain sebagai refleksi diri, jenang sengkolo berfungsi sebagai media doa dan pengharapan. Dalam tradisi menyambut tahun baru Jawa, jenang ini menjadi persembahan untuk memohon keselamatan di tahun yang akan datang. Kehadirannya menunjukkan penyerahan diri manusia kepada kehendak Tuhan.

Dalam upacara adat seperti bersih desa atau pertunjukan wayang topeng, jenang ini dipercaya sebagai penolak bala. Kehadirannya diyakini mampu menghalau roh jahat dan energi negatif yang mengganggu kehidupan masyarakat. Ia juga menjadi simbol perlindungan spiritual kolektif.

Makna lain yang melekat pada jenang sengkolo adalah harapan atas kesuburan dan kelestarian alam. Warna merah-putih menjadi representasi dari siklus hidup dan regenerasi. Sajian ini menjadi bentuk doa agar hasil bumi melimpah dan bencana dijauhkan.

Dalam ajaran Jawa, jenang sengkolo juga menjadi pengingat etika dalam menggunakan harta. Manusia diajak menyadari bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan dari Sang Pencipta. Melalui simbol ini, nilai tanggung jawab, kesederhanaan, dan anti-keserakahan ditanamkan secara halus.

Tradisi menyajikan jenang sengkolo di malam 1 Suro menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menjaga harmoni antara ajaran agama, alam, dan budaya. Meski zaman terus berubah, jenang ini tetap menjadi pengikat spiritual dan sosial yang menyatukan komunitas. Dalam semangkuk bubur merah putih, tersimpan warisan nilai yang layak diteruskan lintas generasi.

Sumber : https://dtk.id/NwFQFm