Peter de Roo resmi menjadi pelatih Persis Solo. (Instagram/peter_de_roo)

Penulis : Anne Aninditha Prissanty/Editor : Windy Octaviani 

Persis Solo akhirnya memecah teka-teki soal sosok pelatih kepala mereka untuk musim kompetisi mendatang. Klub mengumumkan penunjukan Peter de Roo, pelatih asal Belanda berusia 55 tahun, sebagai nahkoda baru Laskar Sambernyawa.

 Pengumuman ini disampaikan secara resmi melalui laman, media sosial, dan siaran pers klub pada Jumat (27/6/2025).

Peter de Roo dipilih setelah melalui proses seleksi ketat dan wawancara dengan manajemen klub, termasuk owner. Rencana permainan, filosofi kepelatihan, dan strategi pengembangan pemain yang ia bawa dinilai sejalan dengan arah baru Persis Solo. 

Ia berhasil mengungguli beberapa kandidat lain, termasuk Ong Kim Swee.

Dalam siaran pers resminya, Peter menyatakan antusiasmenya melatih di Indonesia dan bergabung dengan tim yang memiliki basis pendukung kuat. 

Ia ingin membangun tim dengan permainan menyerang dan semangat juang tinggi. Persis dinilainya memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kekuatan utama di liga nasional.

“Saya percaya bahwa untuk menang, anda harus mencetak gol. Untuk mencetak gol, anda harus menguasai bola. Jadi, saya percaya pada sepak bola berbasis ball possesion… yang penting adalah penguasaan bola dan menciptakan peluang untuk mencetak gol,” jelasnya.

Peter memulai karier kepelatihannya di SC Cambuur sebagai Direktur Teknik (2003–2008). Ia lalu berpengalaman di Australia bersama Football Queensland dan FFA Center of Excellence.

 Setelah itu, ia menjabat Direktur Teknik FAM Malaysia (2017–2021), dan terakhir melatih Balestier Khalsa di Liga Utama Singapura hingga musim 2024/2025.

Pelatih kelahiran Belanda ini menyoroti perbedaan sistem pembinaan di Eropa dan Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki semangat luar biasa, tetapi masih perlu membangun fondasi kuat di pengembangan usia muda dan pendidikan pelatih. 

Ia pun siap menghadirkan struktur dan konsistensi dalam sistem latihan Persis Solo.

“Di Indonesia, semangatnya luar biasa, tetapi sistemnya masih berkembang. Ada potensi besar, tetapi mungkin perlu konsistensi dalam pengembangan pemain muda dan pendidikan pelatih,” ujarnya.

Soal pemain muda, Peter menyebut mereka akan diberi ruang besar dalam sistemnya. Ia percaya bahwa pemain muda lokal bisa menciptakan ikatan emosional dengan para suporter. Namun, ia tetap menegaskan pentingnya adaptasi terhadap filosofi permainan yang ia usung.

“Pemain muda lokal juga merupakan hal yang dapat memberikan koneksi spesial dengan para suporter. Namun, seperti pemain lain dalam tim, saya akan mencoba memastikan mereka beradaptasi dengan cara bermain yang saya inginkan secepat mungkin,” katanya.

Peter datang tidak sendirian. Ia membawa staf pelatih yang terdiri dari asisten pelatih dan pelatih fisik, yang akan diumumkan klub dalam waktu dekat. Penunjukan ini menjadi awal dari persiapan Laskar Sambernyawa menghadapi musim kompetisi yang akan datang dengan target lebih tinggi.

Dengan pengalaman internasional dan filosofi sepak bola progresif, Peter de Roo diharapkan membawa Persis Solo ke level baru. Pendekatan menyerang, keberanian memberi panggung bagi pemain muda, serta perhatian terhadap struktur jangka panjang jadi napas baru klub kebanggaan Solo. Musim 2025 diyakini menjadi awal era baru yang lebih menjanjikan bagi Laskar Sambernyawa.

Sumber Berita : Detik.com