Dokumentasi : Anne Aninditha Prissanty/
Penulis : Anne Aninditha Prissanty/editor : Windy Octaviani


Semarak cahaya dan hentakan musik jalanan kembali menghidupkan kawasan Kota Lama Semarang dalam gelaran Kresem Art Street #5, Sabtu malam. 

Lebih dari 300 perempuan berkebaya menari di sepanjang jalan, menciptakan harmoni budaya dan kreativitas dalam satu panggung terbuka. 

Inilah momentum di mana industri kreatif Semarang berpadu dalam ruang publik yang hidup dan inklusif.


Kresem, singkatan dari Kreator Semarang, merupakan wadah bagi pelaku ekonomi kreatif di kota ini. 

Acara “Kresem Art Street” sudah digelar lima kali dan menjadi simbol konsistensi dukungan terhadap 17 subsektor ekonomi kreatif. 

Ajang ini menjadi jembatan antara pelaku dan pasar, sekaligus ruang aktualisasi ide di tengah geliat kawasan wisata unggulan Kota Lama.


Dalam edisi kelima ini, penampilan 300 penari kebaya menjadi magnet utama yang diikuti pula oleh berbagai komunitas seni, fashion, kriya, hingga pertunjukan musik. 

Seluruh peserta berasal dari kota Semarang dan secara sukarela mendaftarkan diri untuk berpartisipasi.

 Tidak hanya menari, tetapi juga menampilkan produk dan karya khas industri kreatif.


Presiden Kresem, Andi Kusnadi, menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung ruang kreatif jalanan ini. 

“Terima kasih sekali buat teman-teman pendukung terutama, dan juga dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, juga dari pengelola kawasan Kota Lama yang sudah memberikan izin kepada kami untuk selalu berekspresi, berkreativitas di jalanan Kota Lama ini,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa Kresem bukan hanya perayaan seni, tapi juga gerakan ekonomi masyarakat kreatif. Menurutnya. 

Kota Lama yang menjadi lokasi acara adalah etalase utama Semarang karena memiliki kunjungan wisatawan tertinggi di Jawa Tengah. 

Di tempat inilah produk-produk kreatif seperti kriya rajut, fashion, hingga kerajinan lokal bisa ditawarkan langsung ke wisatawan dari dalam dan luar negeri.

“Harapannya ini menjadi sebuah promosi yang menarik untuk bagaimana kita memperkenalkan produk-produk kreatif Kota Semarang,” jelas Andi.

Lebih jauh, Kresem ingin menjadi sistem yang konsisten mendukung pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif. 

Andi berharap jalanan Kota Lama akan selalu menjadi “panggung kreatif” terbuka bagi para seniman, perajin, desainer, dan pelaku industri kreatif lainnya. 

Dengan dukungan dari berbagai stakeholder, ia percaya kegiatan ini akan terus tumbuh dan memberi dampak nyata. 

“Harapannya dalam setiap kegiatan ini ada sebuah nilai, nilai ekonomi yang didapatkan oleh semua para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia,” katanya.

Kresem Art Street bukan sekadar perayaan budaya, melainkan representasi semangat kolektif kota menuju kesejahteraan berbasis kreativitas. 

Kota Lama bukan lagi sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi menjadi panggung masa kini bagi generasi kreator Semarang. 

Dari 300 kebaya yang menari hingga kriya yang terpajang, inilah denyut ekonomi kreatif yang hidup di jantung kota.